Versions

Description

Ketika ayah saya pulang dan membaca rapor yang sama, dia berubah menjadi banteng yang sangat marah, bukan banteng yang menciumi bunga-bunga ku. "Apa maksudnya anak lelaki lain mempermainkan kamu? Mengapa kamu biarkan mereka mempermainkan kamu? Apa kamu banci?" katanya, sambil memperhatikan komentar atas perilaku saya daripada nilai saya. Ketika saya menjelaskan pada ayah bahwa saya hanya menjalankan perintah Ibu, ayah saya lantas berbalik pada ibu dan berkata, "Anak-anak lelaki itu nakal dan suka mengganggu. Belajar bagaimana menghadapi para pengganggu itu penting bagi semua anak untuk belajar. Jika mereka tidak belajar bagaimana menangani para pengganggu saat kecil, mereka akan tumbuh dengan membiarkan diri mereka terus diganggu ketika dewasa nanti. Belajar bersikap baik adalah satu cara untuk menangani si pengganggu, begitu juga melawannya, jika dan bila sikap baik itu tidak berhasil. Berbalik pada saya, ayah bertanya, "Dan bagaimana perasaamnu ketika anak laki-laki lain menyuruh-nyuruh kamu? Saya langsung menangis dan berkata, "Aku sangat ngeri. Aku merasa tak berdaya dan ketakutan. Aku tidak mau sekolah. Aku ingin membalas, tapi aku juga ingin menjadi anak baik dan melakukan apa yang Ayah dan Ibu inginkan. Aku benci dipanggil 'gendut', 'babi', 'Dumbo', dan dipermainkan. Yang paling aku benci adalah aku cuma berdiri dan menerima itu semua. Aku sungguh merasa seperti pengecut dan banci. Bahkan anak-anak perempuan menertawakan aku karena hanya berdiri dan menangis." Ayah saya berpaling pada ibu dan memelototinya, untuk membuat ibu tahu bahwa dia tidak menyukai apa yang saya pelajari darinya. "Jadi apa yang ingin kamu lakukan?" tanya ayah. 'Sebenarnya aku ingin memukul balik," kata saya. "Aku tahu aku bisa mengalahkan mereka. Mereka hanya anak-anak kecil yang menyuruh-nyuruh orang lain, dan mereka suka menyuruh aku karena akulah yang terbesar di kelas. Setiap orang mengatakan jangan memukul mereka karena aku lebih besar, tapi aku sangat benci berdiri di sana dan menerima perintah mereka. Aku berharap bisa berbuat sesuatu. Mereka tahu aku tidak akan berbuat apa pun, jadi mereka teras menyuruh-nyuruh aku di depan banyak orang. Aku sungguh ingin memukul mereka." "Begini, jangan pukul mereka," kata ayah dengan tenang. Tapi carilah cara untuk membuat mereka tahu bahwa kamu tidak dapat disuruh-suruh lagi seperti dulu. Sekarang ini, kamu sedang belajar sebuah pelajaran yang sangat penting tentang harga diri dan mempertahankan hak-hakmu. Pokoknya, kamu jangan memukul mereka. Gunakan pikiranmu untuk menemukan cara untuk membuat mereka tahu bahwa kamu tidak akan disuruh-suruh lagi." Saya berhenti menangis. Saya merasa jauh lebih baik sewaktu menyeka air mata saya dan merasakan keberanian dan harga diri memasuki tubuh saya. Sekarang saya siap untuk kembali ke sekalah. Hari berikutnya ibu dan ayah saya dipanggil ke sekolah. Wali kelas saya dan kepala sekalah sangat marah. Ketika ibu dan ayah saya masuk ke ruangan, saya sedang duduk di pojok, dengan cipratan lumpur di tubuh. "Apa yang terjadi?" tanya ayah sambil duduk. "Begini, saya tidak bisa mengatakan bahwa anak-anak tidak melakukan itu," kata wali kelas saya. "Tetapi setelah saya menuliskan catatan itu pada anda di dalam rapor Roberr, saya tahu sesuatu akan berubah." "Apakah dia memukul mereka?" tanya ayah saya dengan sangat cemas. Tidak, dia tidak memukul," kata kepala sekolah. Optimization 1 by https://seocrypt.com/jasa-seo-solo/ Optimization 1 by https://sekaliklik.id/harga-jasa-seo-bandung/

Repository

https://github.com/merizakrisna/JASA-SEO.git

Project Slug

cara-mendidik-anak-biar-pandai-dan-pintar

Last Built

2 years, 8 months ago passed

Maintainers

Home Page

https://sekaliklik.id/

Badge

Tags

anak, cara-mendidik

Short URLs

cara-mendidik-anak-biar-pandai-dan-pintar.readthedocs.io
cara-mendidik-anak-biar-pandai-dan-pintar.rtfd.io

Default Version

latest

'latest' Version

master